Monday, May 21, 2012

My desperate feeling and a little light from heaven


Mata rasanya sakit kalau lagi nangis. Air mata yang keluar rasanya kayak darah dalam hati yang mengalir keluar lewat mata. Rasanya sakit padahal gak tau bagian mana yang luka. Aku selalu bilang ini mudah. Tapi ini sama sekali gak mudah. Kadang terpikir buat kabur. Kadang rasanya hidup ini sia sia. Kadang rasanya takut kalau harus berpisah dengan hidup. Kadang gak ada rasa ikhlas buat menerima yang udah terjadi.
Sering ngerasa sendiri dan ditinggalkan dibelakang. Gak satupun rasanya yang paham perasaan ini. Ngebuat aku makin ngrasa kesepian. Oh ini rasanya kesepian.
Setiap hari acting kalau semua baik baik aja. Pasang wajah bahagia dan selalu ceria. Mungkin aku gak tahu cara bersyukur, gak tahu cara ikhlas. Padahal Allah sering mempertemukan aku dengan orang orang yang hidup jauh lebih menderita tapi tetep berusaha sebaik mungkin untuk hidup. Seperti nenek yang pernah aku temuin di stasiun. Kayaknya gak ada seorang pun yang peduli sama nenek itu pas si nenek turun dari kereta. Meski nenek itu kurus, tanpa alas kaki, dan tampak sangat menyedihkan. Gak ada satupun yang coba buat peduli sama nenek itu. Waktu itu aku sendirian nungguin kereta buat pulang ke kampung halaman. Aku meliat nenek itu turun sendirian dan bertanya – tanya dalam hati kenapa nenek itu gak pake alas kaki. Aku liat terus sampe nenek itu duduk sendiri. Gak tau kenapa ngeliat nenek itu hatiku rasanya sakit. Trus aku beraniin diri buat nyamperin nenek itu.
“ dari mana nek?” tanyaku sambil tersenyum
Lalu nenek itu menjawab suatu daerah yang aku gak kenal. Intinya itu masih daerah sekitar bandung dan jawa barat. Nenek itu tersenyum hangat. Lalu ia balik bertanya, “mau kemana neng?”
“mau ke blitar,jawa timur.”
Nenek itu lalu bercerita tentang tujuannya melakukan perjalanan sendirian, ia pergi untuk mengunjungi cucunya yang ada di luar daerah.
Aku penasaran kenapa nenek ini tanpa alas kaki, dan jawaban yang aku terima. Sungguh sangat menyakitkan. Nenek itu bercerita bahwa sandalnya hilang dikereta begitu juga dengan makanan yang dia bawa untuk cucunya. Sandal dan makanan itu kayaknya hilang diambil orang. Dia bilang hatinya rasanya kayak menangis. Deg… Hati siapa yang gak sakit denger cerita itu. Jauh jauh dia susah payah mau mengunjungi cucunya, tapi makanan yang dia bawa untuk oleh – oleh cucunya malah hilang juga diambil orang. Lalu aku tanya ke nenek itu. “ nenek pasti haus ya?”
“ iya haus banget neng,”
Lalu bergegas aku belikan nenek itu minuman dan biscuit. Sebenarnya aku juga ingin membelikannya alas kaki. Tapi di stasiun ini tidak ada yang menjual. Nenek itu terlihat sangat gembira dan berterima kasih saat menerimanya dariku. Padahal itu hanya sedikit yang bisa kuberi. Tiba –tiba keretaku datang. Terpaksa aku naik dan mengucapkan selamat tinggal pada nenek malang itu.
“ saya duluan ya nek. “
Bergegas aku naik ke kereta. Hatiku rasanya berat meninggalkan nenek itu sendirian. Aku bertanya – tanya dalam hati. Bagaimana nanti nenek itu pulang, bagaimana nanti ia makan. Dimana ia tinggal. Akankah dia baik baik saja. Apa kakinya akan luka jika ia berjalan tanpa alas kaki. Aku menyesalkan mengapa aku pake sepatu ini. Coba aku pake sandal pasti bisa kuberikan untuk nenek itu. bagaimanapun juga sneakers ini gak mungkin cukup kalau dipake oleh si nenek. Dan tiba tiba air mata yang dari tadi aku tahan menetes juga sesaat setelah aku duduk di bangku kereta. Aku menangis untuk sesaat. Aku berhenti karena aku takut teman sebelahku akan terganggu dengan orang asing yang tiba – tiba menangis. Dan akhirnya melajulah kereta itu meninggalkan stasiun.
Nenek itu tidak seperti malaikat yang biasa kubayangkan, yang rupawan dan bersayap putuh bersih. Tapi aku merasa nenek itu adalah sebutir cahaya yang dikirimkan Allah padaku. Untuk menyadarkanku bahwa seberat apapun hidup yang kita jalani. Meski didunia ini gak ada seorangpun yang peduli. Selalu lakukan semua dengan ikhlas dan sepenuh hati

No comments:

Post a Comment