Mata rasanya sakit kalau lagi nangis. Air mata yang keluar rasanya
kayak darah dalam hati yang mengalir keluar lewat mata. Rasanya sakit padahal
gak tau bagian mana yang luka. Aku selalu bilang ini mudah. Tapi ini sama
sekali gak mudah. Kadang terpikir buat kabur. Kadang rasanya hidup ini sia sia.
Kadang rasanya takut kalau harus berpisah dengan hidup. Kadang gak ada rasa
ikhlas buat menerima yang udah terjadi.
Sering ngerasa sendiri dan ditinggalkan dibelakang. Gak satupun
rasanya yang paham perasaan ini. Ngebuat aku makin ngrasa kesepian. Oh ini
rasanya kesepian.
Setiap hari acting kalau semua baik baik aja. Pasang wajah bahagia
dan selalu ceria. Mungkin aku gak tahu cara bersyukur, gak tahu cara ikhlas.
Padahal Allah sering mempertemukan aku dengan orang orang yang hidup jauh lebih
menderita tapi tetep berusaha sebaik mungkin untuk hidup. Seperti nenek yang
pernah aku temuin di stasiun. Kayaknya gak ada seorang pun yang peduli sama
nenek itu pas si nenek turun dari kereta. Meski nenek itu kurus, tanpa alas
kaki, dan tampak sangat menyedihkan. Gak ada satupun yang coba buat peduli sama
nenek itu. Waktu itu aku sendirian nungguin kereta buat pulang ke kampung
halaman. Aku meliat nenek itu turun sendirian dan bertanya – tanya dalam hati
kenapa nenek itu gak pake alas kaki. Aku liat terus sampe nenek itu duduk
sendiri. Gak tau kenapa ngeliat nenek itu hatiku rasanya sakit. Trus aku
beraniin diri buat nyamperin nenek itu.
“ dari mana nek?” tanyaku sambil tersenyum
Lalu nenek itu menjawab suatu daerah yang aku gak kenal. Intinya itu
masih daerah sekitar bandung dan jawa barat. Nenek itu tersenyum hangat. Lalu
ia balik bertanya, “mau kemana neng?”
“mau ke blitar,jawa timur.”
Nenek itu lalu bercerita tentang tujuannya melakukan perjalanan
sendirian, ia pergi untuk mengunjungi cucunya yang ada di luar daerah.
Aku penasaran kenapa nenek ini tanpa alas kaki, dan jawaban yang aku
terima. Sungguh sangat menyakitkan. Nenek itu bercerita bahwa sandalnya hilang
dikereta begitu juga dengan makanan yang dia bawa untuk cucunya. Sandal dan
makanan itu kayaknya hilang diambil orang. Dia bilang hatinya rasanya kayak
menangis. Deg… Hati siapa yang gak sakit denger cerita itu. Jauh jauh dia susah
payah mau mengunjungi cucunya, tapi makanan yang dia bawa untuk oleh – oleh
cucunya malah hilang juga diambil orang. Lalu aku tanya ke nenek itu. “ nenek
pasti haus ya?”
“ iya haus banget neng,”
Lalu bergegas aku belikan nenek itu minuman dan biscuit. Sebenarnya
aku juga ingin membelikannya alas kaki. Tapi di stasiun ini tidak ada yang
menjual. Nenek itu terlihat sangat gembira dan berterima kasih saat menerimanya
dariku. Padahal itu hanya sedikit yang bisa kuberi. Tiba –tiba keretaku datang.
Terpaksa aku naik dan mengucapkan selamat tinggal pada nenek malang itu.
“ saya duluan ya nek. “
“ saya duluan ya nek. “
Bergegas aku naik ke kereta. Hatiku rasanya berat meninggalkan nenek
itu sendirian. Aku bertanya – tanya dalam hati. Bagaimana nanti nenek itu
pulang, bagaimana nanti ia makan. Dimana ia tinggal. Akankah dia baik baik
saja. Apa kakinya akan luka jika ia berjalan tanpa alas kaki. Aku menyesalkan
mengapa aku pake sepatu ini. Coba aku pake sandal pasti bisa kuberikan untuk
nenek itu. bagaimanapun juga sneakers ini gak mungkin cukup kalau dipake oleh
si nenek. Dan tiba tiba air mata yang dari tadi aku tahan menetes juga sesaat
setelah aku duduk di bangku kereta. Aku menangis untuk sesaat. Aku berhenti
karena aku takut teman sebelahku akan terganggu dengan orang asing yang tiba –
tiba menangis. Dan akhirnya melajulah kereta itu meninggalkan stasiun.
Nenek itu tidak seperti malaikat yang biasa kubayangkan, yang
rupawan dan bersayap putuh bersih. Tapi aku merasa nenek itu adalah sebutir
cahaya yang dikirimkan Allah padaku. Untuk menyadarkanku bahwa seberat apapun
hidup yang kita jalani. Meski didunia ini gak ada seorangpun yang peduli.
Selalu lakukan semua dengan ikhlas dan sepenuh hati