Thursday, January 5, 2012

POP Vs Tradisional

(POSTING PERTAMA : yuhuiii ^_^ ) 
Vs 


Baru aja saya ngerjain tugas kewarganegaraan tentang globalisasi di bidang sosial budaya. Dan dari semua dampak negatif yang saya tulis , “itu saya banget.” (suck!! Bukan hal yang membanggakan sama sekali)
Mulai dari lebih suka kebudayaan asing ketimbang lokal. (bener-bener gak patut ditiru)
tapi lebih ironis lagi karena pastinya gak Cuma saya yang udah terjangkit dampak negatif globalisasi. Boleh di cek isi laptop anak muda jaman sekarang. Bikin riset tentang berapa banyak perbandingan anak muda yang nyimpen file tentang budaya lokal n budaya asing. PASTI banyakan nyimpen budaya asingnya. Mulai dari film Hollywood sampe drama korea. Mulai dari lagu kuch kuch hotahe sampe sorry sorry- nya super junior. Coba deh kalau usia produktif tercatat 55,5% dari total 237,6 juta orang (sensus 2010) , jadi 131.868.000 orang jumlah penduduk Indonesia Usia Produktif berapa sih yang dengan tulus hati melestarikan dan dengan sepenuh hati mencintai budaya lokal.
Ntar aja kalau Negara tentangga Malaysia nge-claim kebudayaan kita, baru kita mencak – mencak ngamuk gak terima, (bukan berarti nge-claim kebudayaan negera lain sembarangan itu dibenarkan, itu tindakan rendah banget . NO NO NO)
Maka dari itu kita – kita sebagai generasi muda harusnya lebih aware sama isu – isu kayak gini. Kalau gak kita – kita siapa lagi yang bakal ngelanjutin warisan nenek moyang kita tercinta.
Gak ada yang salh kok suka sama Super Junior (saya juga suka) atau Simple Plan (me too), tapi kesukaan kita sama budaya asing itu bisa diimbangin sama kesukaan sama budaya lokal juga. Mulai sekarang saya bakal lebih mebuka diri buat belajar Jawa lebih dalam. Kalau anda orang batak mulai dengan Budaya Batak , begitu juga Sunda, Bali dan lain lain. Hidup Indonesia !!
referensi data : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/12/21/17014516/Indonesia.Capai.Puncak.Bonus.Demografi.2017-2019

No comments:

Post a Comment